PTC - PTC Terbaik

Senin, 15 November 2010

Memaknai Idhul Adha / Qurban dalam Kehidupan.

Kita sebagai umat muslim yang hidup di muka bumi ini, sebenarnya selalu dalam ujian dan cobaan dari Sang Pencipta. Ujian dan cobaan ini sangat bervariasi dan macamnya, seringkali cobaan menimpa dalam wujud yang menyengsarakan, menyakitkan hingga berupa kematian. Namun, seringkali juga hadir bersamaan dengan kebahagiaan dan kemewahan hidup berupa kekayaan yang melimpah.

Ujian yang harus kita pahami dan sadari sehingga kita bisa belajar banyak hal dan makna kehidupan dari setiap fenomena dan kejadian yang menimpa kita atau peristiwa aneh sekitar kita, demi tujuan kehidupan sejati, bahagia dunia dan akhirat.

Qurban dalam istilah fikih adalah Udhiyyah yang artinya hewan yang disembelih waktu dhuha, yaitu waktu saat matahari naik. Secara terminologi fikih, udhiyyah adalah hewan sembelihan yang terdiri onta, sapi, kambing pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasriq untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kata Qurban artinya mendekatkan diri kepada Allah, maka terkadang kata itu juga digunakan untuk menyebut udhiyyah.

Mempersembahkan persembahan kepada tuhan adalah keyakinan yang dikenal manusia sejaka lama. Dalam kisah Habil dan Qabil yang disitir al-Qur'an disebutkan Qurtubi meriwayatkan bahwa saudara kembar perempuan Qabil yang lahir bersamanya bernama Iqlimiya sangat cantik, sedangkan saudara kembar perempuan Habil bernama Layudza tidak begitu cantik. Dalam ajaran nabi Adam dianjurkan mengawinkan saudara kandung perempuan mendapatkan saudara lak-laki dari lain ibu. Maka timbul rasa dengki di hati Qabil terhadap Habil, sehingga ia menolak untuk melakukan pernikahan itu dan berharap bisa menikahi saudari kembarnya yang cantik. Lalu mereka sepakat untuk mempersembahkan qurban kepada Allah, siapa yang diterima qurbannya itulah yang akan diambil pendapatnya dan dialah yang benar di sisi Allah. Qabil mempersembahkan seikat buah-buahan dan habil mempersembahkan seekor domba, lalu Allah menerima qurban Habil.

Qurban ini juga dikenal oleh umat Yahudi untuk membuktikan kebenaran seorang nabi yang diutus kepada mereka, sehingga tradisi itu dihapuskan melalui perkataan nabi Isa bin Maryam.Tradisi keagamaan dalam sejarah peradaban manusia yang beragam juga mengenal persembahan kepada Tuhan ini, baik berupa sembelihan hewan hingga manusia. Mungkin kisah nabi Ibrahim yang diperintahkan menyembelih anaknya adalah salah satu dari tradisi tersebut.

Sebenarnya apabila kita mau menelaah Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban atau juga Hari Lebaran Haji terdapat makna mendalam yang sangat bermanfaat bagi kebahagiaan hidup kita di dunia dan akherat. Makna dan manfaat yang bisa kita ambil antara lain:

Pertama, makna ketakwaan manusia atas perintah sang Khalik. Kurban adalah simbol penyerahan diri manusia secara utuh kepada sang pencipta, sekalipun dalam bentuk pengurbanan seorang anak yang sangat kita kasihi (Keteladanan Nabi Ibrahim mendapat perintah Tuhan untuk menyembelih putra tercinta, Nabi Ismail). Pada kondisi sekarang ini, kita diuji ketakwaannya dengan keikhlasan dan penuh penyerahan tulus, untuk menyisihkan sebagian harta kita untuk di belikan ternak sebagai hewan kurban. Sebuah hal sederhana namun merupakan sesuatu yang sulit dilaksanakan, terlebih harus adanya sifat ikhlas dan menghindarkan sifat pamer yang terkadang tidak bisa lepas dari hidup kita.

Kedua, makna sosial, di mana Rasulullah melarang kaum mukmin mendekati orang-orang yang memiliki kelebihan rezeki, akan tetapi tidak menunaikan perintah kurban. Dalam konteks itu, Nabi bermaksud mendidik umatnya agar memiliki kepekaan dan solidaritas tinggi terhadap sesama. Kurban adalah media ritual, selain zakat, infak, dan sedekah yang disiapkan Islam untuk mengejewantahkan sikap kepekaaan sosial itu. Di sini, terkadang kita terjebak oleh kecintaan duniawi dan kurang menyadari bahwa harta dan rezeki yang kita punya hanyalah titipan sekaligus ujian seberapa besar sifat amanah mampu menerangi hidup kita.

Ketiga, makna bahwa apa yang dikurbankan merupakan simbol dari sifat tamak dan kebinatangan yang ada dalam diri manusia seperti rakus, ambisius, suka menindas dan menyerang, cenderung tidak menghargai hukum dan norma-norma sosial menuju hidup yang hakiki. Di harapkan pada peristiwa peringatan Idul Adha ini, sifat-sifat kebuasan yang menyerupai binatang ikut mati dan tersisa sifat terpuji layaknya insan kamil.

Mudah-mudahan kita termasuk dalam bagian manusia dan umat Nabi yang senantiasa takwa serta berpijak pada kebaikan demi kemuliaan hidup di dunia dan akhirat.
Wallahu'alam bissowab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar